Translate

Tampilkan postingan dengan label kisah linduajicom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah linduajicom. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2012

Kisah Abu Nawas




BERAPA TAHUNKAH SETENGAHNYA DARI MASA TAHANAN SEUMUR HIDUP?

Kalau setengahnya dari masa tahanan 10 tahun yaitu 5 tahun. tapi kalau setengahnya dari seumur hidup berapa? ini jawabannya.

Kecerdikan Abu Nawas memang sudah tak diragukan lagi, bahkan ketika raja Harun Ar-Rasyid menghadapi masalah, tak segan-segan Abu Nawas dipanggilnya untuk menyelesaikan maslah.
Nah, kali ini Abu Nawas mendapatkan tugas untuk menghitung kematian.
Bagaimana cara Abu Nawas menghitungnya?

Berikut Kisahnya.
Suatu hari, di negeri Seribu Satu Malam, Baghdad, digelarlah acara hajatan besar. Sang Raja Harun Ar-Rasyid pun berniat merayakan pesta ulang tahun kerajaan bersama-sama dengan seluruh rakyatnya. Pada hari yang telah ditunggu tiba, rakyat Baghdad dikumpulkan di depan pendapa istana.

Raja Harun sang penguasa berdiri dan berkata,
"Wahai rakyatku yang tercinta, hari ini kita mengadakan pesta ulang tahun kerajaan. Aku akan memberi hadiah kepada para fakir miskin, aku juga akan memberikan pengampunan kepada para tahanan di penjara dengan mengurangi hukuman menjadi setengah dari sisa hukumannya," seru baginda kepada rakyatnya.

Memberi Keringanan Hukuman pada Tahanan.
Mendengar ucapan sang raja, tentu saja rakyat Baghdad bersuka ria. Mereka segera berpesta bersama dan menyantap aneka makanan yang telah disediakan. Tak berapa lama kemudian, para pengawal istana membagi-bagikan hadiah kepada fakir miskin.


Setelah dipastikan seluruh rakyatnya yang fakir miskin mendapatkan hadiah, raja pun memanggil para tahanan
Tahanan pertama yang mendapatkan kesempatan adalah bernama Sofyan (maaf bila ada kesamaan nama).
"Sofyan, berapa tahun hukumanmu?" tanya baginda.
"Dua tahun Baginda," jawab Sofyan.
"Sudah berapa tahun yang kamu jalani?" tanya baginda lagi.
"Satu tahun Baginda," jawab Sofyan.
"Kalau begitu, sisa hukumanmu yang satu tahun aku kurangi menjadi setengah tahun sehingga hukumanmu tinggal 6 bulan saja," tegas baginda.

Selanjutnya, dipanggillah Ali.
"Berapa tahun hukumanmu Ali?" tanya baginda.
Dengan nada yang sedih, Ali menjawab,
"Mohon ampun Baginda, hamba dihukum seumur hidup," jawab Ali.
Mendengar jawaban Ali tersebut, Baginda menjadi bingung harus menjawab apa untuk mengurangi hukuman Ali.
Di tengah kebingungannya, Raja yang terkenal bijaksana ini teringat dengan Abu Nawas. Akhirnya, dipanggillah Abu Nawas.
Tak berapa lama kemudian, Abu Nawas yang turut serta dalam pesta ulang tahun kerajaan menghampiri sang Raja yang sedang kebingungan itu.

"Abu Nawas, aku ada masalah mengenai hadiah pengampunan bagi Ali. Dia dihukum seumur hidup sedangkan aku berjanji akan memberikan pengampunan setengah dari sisa hukumannya. Padahal aku tidak tahu sampai umur berapa Ali akan hidup. Sekarang aku minta nasehatmu, bagaimana caranya memberi pengampunan kepada Ali dari sisa hukumannya," jelas Raja.

Mendengar penuturan rajanya, Abunawas pun ikut bingung. Dia berpikir, apa bisa mengurangi umur seseorang, padahal dia sendiri tidak tahu sampai kapan umurnya.
"Hamba minta waktu Baginda," ujar Abunawas.
Mendengar permintaan Abu Nawas, Raja pun akhirnya memberikan kesempatan kepada Abu Nawas untuk berpikir. Raja hanya memberi waktu sehari semalam saja, tidak boleh lebih. Jadi, besok pagi Abu Nawas harus memberikan jawabannya.

Sesampainya di rumah, Abu Nawas pun berpikir keras untuk menemukan pemecahan masalah tersebut. Dia tidak bisa tidur karena selalu kepikiran akan hal itu. Namun, selang beberapa waktu, tampaklah senyuman di bibir Abu Nawas, pertanda solusi telah ditemukan.
Abu Nawas pun malam itu segera masuk ke kamar untuk tidur dengan nyenyak.

Pada pagi-pagi sekali, Abu Nawas telah bangun.
Setelah mandi dan sarapan, dia pun pergi menghadap raja setelah berpamitan dengan istrinya.

"Hamba sudah mendapatkan cara untuk memecahkan masalah si Ali, Baginda.
Begini Baginda, sebaiknya si Ali ini berada di luar penjara dan bisa bebas selama satu hari, lalu pada esoknya, dia dimasukkan lagi ke dalam penjara selama satu hari pula. Lusa juga demikian, sehari bebas, sehari dipenjara, begitu berlangsungterus selama umur si Ali itu," jelas Abu Nawas.

"Engkau memang pandai Abu Nawas. Kalau begitu, kamu juga akan aku beri hadiah, yaitu sekantung keping emas," ujar sang Raja.
Setelah itu, Abu Nawas pulang dengan wajah yang ceria.

sumber Kisahpetualanganabunawas.blogspot,com

Sabtu, 31 Desember 2011

kisah " dara yang terenggut [surat sebelum bunuh diri}


Dunia, 1 January 2011, 02.45.11 WIB Kepada Kekasihku
Pria yang bersemanyan di hatiku
Salam air mata dan kehangatan cinta
Kutuliskan sebuah jeritan kepadamu, agar engkau juga tahu isi hatiku, isi hati yang tak bisa ku ungkapkan dengan lisan kepadamu walaupun hanya melalui telepon.
Duhai kekasihku.
Belum berselang sehari kisah mesra yang kita bina, kisah mesra yang mampu menembus angan dan harapanku tuk hidup bersamamu di dunia ini. Semoga dan kuharap kau juga tidak langsung melupakan semua itu, begitu juga aku, sayang. Masih terbanyang di mata ini, awal kedatanganmu kerumahku, berpamitan pada kedua orang tuaku dan akhirnya kita berselancar diatas motor menuju tempat yang kau (bukan aku) inginkan.
Hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk mencapai rumah yang telah ditata bagaikan tempat hiburan malam yang katamu adalah rumah kawanmu. Aku terpaku, terdiam, hening dan heran. Walau sebenarnya tempat ini ramai oleh muda - muda  dan musik yang hingar bingar.
Duhai kekasihku.
Kau bisikkan kata sayang dan janji ke telinga mungilku sambil kau dekapkan tanganmu di pinggangku. Mesra dan ini yang ku inginkan. Hanya ini, tak lebih. hanya rasa sayang dan nyaman berada dalam dekapanmu.
Waktu terus berlalu dan pesta terus berlanjut. Aku ingat semua itu sayang, walau tubuhku sudah mulai terlihat pusing oleh ulah kawan - kawan mu yang menyodorkan segelas minuman berwarna ungu yang tak dan belum pernah aku lihat apalagi aku rasakan. Aku menegaknya dan matapun terasa berat. Aku berjoget, begitu juga kau. Semua berjoget dan menari riang.
Kulihat jam dinding dengan samar menunjukkan angka 11 lewat 47 menit malam itu. Semua semakin bersemagat, suara terompet sudah mulai di uji coba, sebagai persiapan menyambut tahun baru. Tubuhku sudah mulaimlemas, pikiranku waktu itu sudah mulai tidak waras, aku hanya ingin terus berada dalam dekapanmu, dalam kecupanmu dan dalam belaianmu.
Aku terlelap dan tak sadrkan diri sebelum terompet kemeriahan tahun baru ditiup serentak bersama suara - suara mercun yang mnggelegar di udara.
Sayang, aku tak tahu berapa lama aku tak sadarkan diri, aku tak tahu apa yang telah terjadi dan aku hanya tahu bahwa aku terbangun masih disana, masih ramai tapi bukan di ruangan yang tadi. Itu tempat tidur sayang dan aku hanya diselimuti kain sarung tanpa pakaian yang aku kenakan tadi.
sayang, aku tak bermaksud untuk begini dalam merayakan tahun baru ini karena baru kali ini aku kelaur di malam tahun baru yang katanya sangat menyenangkan tetapi mengapa harus berakhir pahit bagiku.
Sayang, kau mengatakan dengan tegar epadaku bahwa kau telah merenggut perawanku, telah khilaf karena tak bisa menahan nafsu di depan ku, di depan cewekmu yang telah tak berdaya. Kau dengan bersikap dewasa berjanji untuk bertanggung jawab kepaku. sayang aku bangga padamu. Kau mau berjanji dan aku percaya janjimu. Alku tak sedih lagi walau perawanku telah kau renggut karena engkaulah yang au cintai. Aku harap kau mengerti sayangku.
Setelah beres-beres dan pamitan pada kawan-kawan yang lain yang juga sudah hendak pulang. Kau ajak diriku meninggalkan tempat pertama kali aku bercumbu dengan pria yang aku cintai. Saat itu aku masih bahagia sayang dan aku tak ingin berpikri aku akan menderita.
Jam tanganku telah menunjukkan pukul 1.20.11 WIB, ketika aku sampai kekamarku. Kita beruntung karena orangtuaku tak mengunci pintu rumah sehingga aku bisa masuk tanpa membangunkan mereka. Kau pun pamit dan hilang di kegelapan malam. Mungkin hanya itu saat-saat terakhir kita sayang. Saat - saat kebersamaan kita. Karena setelah aku rebahkan badan, rasa dosa telah berbuat nista denganmu terus menghantuiku, seakan menguntitku dan berteriak; kau wanita jalang”. Aku tak kuasa sayang, aku tak sanggup. Aku tak mampu dan tak bisa. Batinku tertekan dan aku shock sayang.
Akhirnya kuputiuskan untuk menulis sepucuk surat yang kualamatkan kepadamu walau tidak kutulis namamu. Akan kukirimkan kabar ini kepadamu lewat cerita yang kan kau dengarkan dari orang lain.
Seandainya kau masih mengingatku dan masih ingin mengulang kejadian tahun baru itu. Aku siap sayang. Tapi kau pun harus siap karena aku tak mampu hidup lagi di dunia ini karena apa yang telah kuperbuat bersamamu.
Kekasihku.
Ini malam terakhirku dan malam terakhir bagi kita bersama. Dengan berat hati aku terpaksa membayar malu ini dengan nyawaku. Selamat tinggal sayang, bawalah bahagiaku bersamamu dan biarlah kubawa sengsara dan nista kita ke alam lain.
Tertanda kekasihmu
Nista “Sang dara mantan Perawan”

REP | 01 January 2011 | 04:38 http://stat.ks.kidsklik.com/statics/images3.5/icon01.jpg1104 http://stat.ks.kidsklik.com/statics/images3.5/icon02.jpg19 http://stat.ks.kidsklik.com/statics/images3.5/icon03.jpghttp://stat.ks.kidsklik.com/statics/u/stats/chart_329102_974058239.png
1 dari 2 Kompasianer menilai Aktual
                                                            kisah linduajicom

Jumat, 30 Desember 2011

KISAH LINDUAJICOM


Indahnya Kasih Sayang


Mahasuci ALLOH, Zat yang Maha Mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut. 

Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercerabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang ALLOH Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang-orang yang masih hidup kasih sayang di kalbunya.

Karenanya, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup. Tidak berlebihan jikalau kita mengasahnya dengan merasakan keterharuan dari kisah-kisah orang yang rela meluangkan waktu untuk memperhaikan orang lain. Kita dengar bagaimana ada orang yang rela bersusah-payah membacakan buku, koran, atau juga surat kepada orang-orang tuna netra, sehingga mereka bisa belajar, bisa dapat informasi, dan bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas.

Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "ALLOH SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, binatang, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas-kasih dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (ALLOH SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti." (H.R. Muslim).

Dari hadis ini nampaklah, bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya. Karenanya, sudah sepantasnya jikalau kita merindukan kasih sayang, perhatian, dan perlindungan ALLOH SWT, tanyakanlah kembali pada diri ini, sampai sejauhmana kita menghidupkan kalbu untuk saling berkasih sayang bersama makhluk lain?


Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali. 


Sama pula seperti pancaran sinar cerah matahari di pagi hari, dari dulu sampai sekarang ia terus-menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya. Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar-benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.

Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita mengawalinya dengan menyayangi diri kita dulu. Mulailah dengan menghadapkan tubuh ini ke cermin seraya bertanya-tanya:  Apakah wajah indah ini akan bercahaya di akhirat nanti, atau justru sebaliknya, wajah ini akan gosong terbakar nyala api jahannam? 

Tataplah hitamnya mata kita, apakah mata ini, mata yang bisa menatap ALLOH, menatap Rasulullah SAW, menatap para kekasih ALLOH di surga kelak, atau malah akan terburai karena kemaksiyatan yang pernah dilakukannya? 

Rabalah bibir manis kita, apakah ia akan bisa tersenyum gembira di surga sana atau malah bibir yang lidahnya akan menjulur tercabik-cabik?! 

Perhatikan tubuh tegap kita, apakah ia akan berpendar penuh cahaya di surga sana, sehingga layak berdampingan dengan si pemiliki tubuh mulia, Rasulullah SAW, atau tubuh ini malah akan membara, menjadi bahan bakar bersama hangusnya batu-batu di kerak neraka jahannam? 

Ketika memandang kaki, tanyakanlah apakah ia senantiasa melangkah di jalan ALLOH sehingga berhak menginjakkannya di surga kelak, atau malah akan dicabik-cabik pisau berduri. 

Memandang mulusnya kulit kita, renungkanlah apakah kulit ini akan menjadi indah bercahaya ataukah akan hitam legam karena gosong dijilat lidah api jahannam? 

Mudah-mudahan dengan bercermin sambil menafakuri diri, kita akan lebih mempunyai kekuatan untuk menjaga diri kita. 

Jangan pula meremehkan makhluk ciptaan ALLOH, sebab tidaklah ALLOH menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang ALLOH ciptakan syarat dengan ilmu, hikmah, dan ladang amal. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apa saja karunia dari ALLOH adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.

Dikisahkan di hari akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada ALLOH, tetapi ALLOH malah mencapnya sebagai ahli neraka, mengapa? Ternyata karena suatu ketika si ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga ia tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan oleh si ahli ibadah ini. Akhirnya mati kelaparanlah si kucing ini. Ternyata walau ia seorang ahli ibadah, laknat ALLOH tetap menimpa si ahli ibadah ini, dan ALLOH menetapkannya sebagai seorang ahli neraka, tiada lain karena tidak hidup kasih sayang di kalbunya. 

Tetapi ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba datanglah seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Walau tidak mungkin terjangkau kerena dalamnya air di oase itu, anjing itu tetap berusaha menjangkaunya, tapi tidak dapat. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya. Dibukalah slopnya untuk dipakai menceduk air, setelah air didapat, diberikannya pada anjing yang kehausan tersebut. Subhanallah, dengan ijin ALLOH, terampunilah dosa wanita ini.

Demikianlah, jikalau hati kita mampu meraba derita makhluk lain, insya ALLOH keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.

Kisah lain, ketika suatu waktu ada seseorang terkena penyakit tumor yang sudah menahun. Karena tidak punya biaya untuk berobat, maka berkunjunglah ia kepada orang-orang yang dianggapnya mampu memberi pinjaman biaya.

Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang di kalbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang ini, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan akan hartanya karena disangkanya akan habis atau bahkan jatuh miskin. 

Tetapi bagi seorang hamba yang tumbuh kasih sayang di kalbunya, ketika datang yang akan meminjam uang, justru yang muncul rasa iba terhadap penderitaan orang lain. Bahkan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam akan membayangkan bagaimana jikalau yang menderita itu dirinya. Terlebih lagi dia sangat menyadari ada hak orang lain yang dititipkan ALLOH dalam hartanya. Karenanya dia begitu ringan memberikan sesuatu kepada orang yang memang membutuhkan bantuannya. 

Ingatlah, hidupnya hati hanya dapat dibuktikan dengan apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas. Apa artinya hidup kalau tidak punya manfaat? Padahal hidup di dunia ini cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Tidak ada salahnya kita berpikir terus dan bekerja keras untuk menghidupkan kasih sayang di hati ini. Insya ALLOH bagi yang telah tumbuh kasih sayang di kalbunya, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah Kasih Sayang-Nya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menafkahkannya di jalan ALLOH, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula dalam mengajarkannya kepada orang lain, ringan dalam melatih kemampuan bela diri dan ringan pula dalam membela orang lain yang teraniaya, Subhanallah. 

Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang adalah dengan melakukan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan, datang ke daerah terpencil, tengok saudara-saudara kita di rumah sakit, atau pula dengan selalu mengingat umat Islam yang sedang teraniaya, seperti di Bosnia, Checnya, Ambon, Halmahera, atau di tempat-tempat lainnya.

Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, insya ALLOH hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan hati-hatilah bagi orang yang bergaulnya hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, para artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang akan muncul justru rasa minder dan perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, Masya ALLOH.





CASMAD sumber tidak tahu.